Senin, 15 Desember 2014

Tugas Arsitektur Lingkungan
Tugas VI

Konstruksi Bangunan Berkelanjutan (Ramah Lingkungan)

Konstruksi berwawasan lingkungan (green construction) menurut Dirjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, Hermanto Dardak adalah konstruksi yang dapat mengurangi biaya-biaya yang disebabkan bencana yang ditimbulkan karena kerusakan alam. Contohnya saat membangun jalan terkadang membelah aliran sungai agar tidak putus maka harus dibuatkan saluran gorong-gorong yang memadai agar saat hujan tidak meluap ke jalan.Kemudian dalam membangun jalan menggunakan bahan-bahan yang dapat diperbarui (renewable), bobotnya lebih ringan dan kuat untuk menghemat biaya angkut, serta yang panti harus dapat didaur ulang. Sementara dari segi lingkungan setidaknya untuk jalan karena merupakan fasilitas umum harus menyediakan 30 persen sebagai ruang terbuka hijau yang ditempatkan disisi kanan dan kiri jalan, jelasnya.

Standar ramah lingkungan ini jika ditransformasikan ke dalam ukuran maupun sistem baku meliputi beberapa aspek detil lainnya seperti resource consumption and energy balance system, life cycle analysis, eco-efficiency standard, eco-scarcity and eco-toxicology dan sebagainya. Konferensi internasional bangunan berkelanjutan itu sendiri diselenggarakan tiap 3 tahun sekali, dengan diselingi beberapa pertemuan sejenis di tingkat regional. Tak kurang dari 2000 orang hadir untuk mempresentasikan beberapa hasil riset atau temuan mereka di ajang ini.

Dalam Kongres Copenhagen 2009, UIA (Union International des Architect) yang merupakan organisasi asosiasi arsitek non-profit yang mewakili lebih dari satu juta arsitek di 124 negara, telah menyampaikan bahwa betapa bangunan dan industri konstruksi sangat berdampak terhadap pemanasan dan perubahan iklim saat ini, tentunya bukan berarti harus berhenti namun dengan melakukan pendekatan yang “berkelanjutan” misalnya dengan “Sistem Lingkungan Binaan”. Karena UIA berkomitmen untuk untuk mengurangi dampak dan efek yang semakin parah dengan “Sustainable by Design Strategy” yang akan diadopsi lebih banyak pada Kongres di Tokyo, Jepang 2011.

Konsep Strategi Desain Berkelanjutan UIA dapat dijabarkan kedalam 9 point;

Dimulai dengan tahap awal pekerjaan proyek yang melibatkan seluruh pihak : klien, desainer, insinyur, pemerintah, kontraktor, pemilik, pengguna, dan komunitas;
Analisa dan Manajemen seluruhnya dari Daur Hidup Bangunan, yaitu mengintegrasikan semua aspek dalam konstruksi dan penggunaan dimasa depan;
Optimalisasi desain yang efisien, energi terbarukan, teknologi modern dan ramah lingkungan harus menjadi satu kesatuan;
Kesadaran bahwa proyek arsitektur dan konstruksi tersebut merupakan sistem interaktif yang kompleks dan terkait pada lingkungan sekitar yang lebih luas yang bisa mencakup warisan sejarah, kebudayaan, dan sosial masyarakat;
Penerapan “material bangunan yang sehat”, yaitu untuk menciptakan bangunan yang sehat, tata guna lahan yang seimbang, kesan estetik dan inspiratif, serta memberikan keyakinan ke masyarakat;
Upaya untuk mengurangi “carbon imprint”, mengurangi penggunaan material berbahaya yang berdampak terhadap aktivitas pengguna;
Upaya untuk meningkatkan kualitas hidup, kesetaraan baik lokal maupun global, memajukan kesejahteraan ekonomi, serta menyediakan kesempatan-kesempatan untuk kegiatan bersama masyarakat;
Populasi urban tergantung pada sistem desa-kota yang terintergrasi, saling terkait untuk keberlangsungan hidup seperti fasilitas publik (air, udara, rumah, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, dll;
Mendukung pernyataan UNESCO mengenai keberagaman budaya umat manusia sebagai sumber pertukaran, penemuan, kreativitas yang sangat diperlukan oleh manusia.

Selanjutnya, konsep-konsep di atas dapat diterjemahkan bahwa pendekatan “Sustainable Architecture” perlu diterapkan secara menyeluruh dengan melihat seluruh daur hidup dari bangunan tersebut. Dan penerapannya harus secara komprehensif dari maerial, dan penghijauan lingkungan. (Dari berbagai sumber oleh: Iden Wildensyah)
Tugas Arsitektur Lingkungan
Tugas v

ARSITEKTUR BIOLOGIS

Arsitektur

Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lanskap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.

Lingkungan

Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikro-organisme (virus dan bakteri).
Ilmu yang mempelajari lingkungan adalah ilmu lingkungan atau ekologi. Ilmu lingkungan adalah cabang dari ilmu biologi.

Ada dua arus yang mempengaruhi kehidupan manusia: teknik dan alam. Teknik merupakan alat bantu yang dengan cepat dapat diterapkan kalau proses biologis dirasakan terlalu lamban. Berkat teknik itu, kehidupan manusia abad industri kini lebih sejahtera dibanding abad-abad sebelumnya. Akan tetapi, penerapan teknik dapat menimbulkan akibat-akibat sampingan, baik biologis, psikologis, maupun ekologis. Teknik dapat menimbulkan pencemaran dan perusakan peredaran kehidupan, perampasan sumber-sumber alam, yang pada akhirnya mampu membahayakan kehidupan. Arsitektur dan Lingkungan, menyadarkan kita akan perlunya merubah haluan, berpikir secara baru. Arsitektur dan pembangunan perumahan haruslah menuju keselarasan hubungan manusia, alam, dan lingkungan hidupnya. atau Arsitektur dan pembangunan perumahan haruslah menuju ke keselarasan hubungan manusia, alam dan lingkungan hidupnya. Gaya arsitektur seperti apa itu?

Arsitektur Biologis, Penghubung Manusia dengan Lingkungan Hidup

Pada abad ke-8, para seniman bangsa Indonesia telah mencoba memvisualkan mitologi tentang kalpataru dalam bentuk relief di Candi Mendut. Dalam mitologinya, kalpataru disebutkan sebagai pohon kehidupan atau pohon hayati. Siapapun yang memakan buah pohon kalpataru, maka dia akan bisa hidup abadi. Dari mitologi inilah kemudian pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup pada 1982 menggali makna kalpataru dan merekontekstualisasinya sebagai pesan untuk pelestarian lingkungan hidup. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) kemudian memperoleh ide untuk logo organisasinya dari relief kalpataru di Candi Mendut. Terkait dengan pelestarian lingkungan, para tokoh intelektual Bali juga telah merumuskan konsep Tri Hita Karana yang bermakna universal. Secara filosofi, Tri Hita Karana menyangkut hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya, manusia dengan mahluk lain dan alam lingkungannya.
MENJELANG akhir abad ke-20, para ahli dan peneliti lingkungan menemukan adanya "lubang" pada lapisan ozon di antariksa kutub selatan, kutub utara, dan pengikisan lapisan ozon di atmosfir Eropa timur, sebagian penduduk di bumi pun mulai cemas terhadap akan terjadinya pemanasan global.
Menghadapi masalah ini, para desainer di seluruh dunia yang terhimpun dalam berbagai organisasi profesi sesuai dengan wilayahnya, kemudian membuat kesepakatan dalam mendesain harus memperhatikan ketentuan yang disebut "Green Code of Engineers". Maksud kesepakatan ini adalah agar para desainer dalam membuat desain selalu memperhatikan lingkungan hidup dan pemeliharaan alam. Dalam mewujudkan desainnya, mereka diharapkan menggunakan bahan-bahan imitasi atau yang bisa didaur ulang, demi keselamatan alam dan hutan tropis.
Karena itu, Himpunan Desainer Interior Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Masyarakat Desain Wilayah Asia Pasifik (APSDA) juga wajib menjaga keselamatan alam dan hutan tropis Indonesia. Agar tidak terlalu banyak mengganggu masalah lingkungan, maka para desainer interior diharapkan lebih menekankan "unsur manusiawi" dalam perancangannya. Sebab, rancangan ruang memang seharusnya lebih memikirkan manusia sebagai penggunanya.
Dalam kongres APSDA d Tanah Lot awal Oktober 2000, diangkatlah tema "Humanizing the Space". Dengan tema ini, diharapkan setiap desainer interior dalam berkarya wajib memberikan sentuhan manusiawi pada ruang hunian manusia. Sentuhan manusiawi ini antara lain dapat diwujudkan dalam pemilihan warna ruang yang sangat berkaitan dengan masalah psikologis manusia -- pengguna ruang tersebut.

Arsitektur Biologis

Salah satu upaya agar rancang bangun sebuah karya arsitektur senantiasa memperhatikan aspek lingkungan dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan adalah konsep arsitektur biologis. Istilah arsitektur biologis diperkenalkan oleh beberapa ahli bangunan, antara lain Prof. Mag.arch, Peter Schmid, Rudolf Doernach dan Ir. Heinz Frick. Arsitektur biologis berarti ilmu penghubung antara manusia dan lingkungannya secara keseluruhan. Arsitektur biologis mempelajari pengetahuan tentang hubungan integral antara manusia dan lingkungan hidup.
Ribuan tahun lamanya manusia telah berjuang untuk menguasai alam. Jiwa dan raganya tidak jarang dipertaruhkan. Setidak-tidaknya kini manusia telah mulai menguasai alam lewat bantuan teknologi. Teknologi modern merupakan alat yang dengan cepat dapat membantu mensejahterakan kehidupan manusia, dibandingkan teknologi di abad-abad sebelum terjadinya revolusi industri. Proses biologis dianggap terlalu lamban untuk bisa mensejahterakan kehidupan. Namun, teknologi modern ternyata menimbulkan efek-efek samping yang bersifat biologis, psikologis, maupun ekologis. Semua itu nantinya bisa menimbulkan ancaman bagi alam dan membahayakan kehidupan.
Di sinilah pentingnya pemahaman pengetahuan arsitektur dan lingkungan, yang bisa menyadarkan setiap insan untuk berpikir secara baru. Arsitektur dan pembangunan perumahan haruslah menuju keselarasan hubungan manusia, alam dan lingkungan hidupnya. Dalam hal ini, arsitektur biologis akan mempergunakan teknologi alamiah untuk menetrasi keadaan kritis alam yang sudah mulai terancam.

Penerapan Arsitektur Biologis

Melalui konsep arsitektur biologis, para arsitek diajak memahami rumah sebagai sebuah bangunan organis, untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Kualitas bangunan dengan bagian-bagian material dan rohani menentukan kualitas lingkungan hidup manusia. Bahan-bahan bangunan yang digunakan dalam mewujudkan arsitektur biologis adalah bahan-bahan bangunan dari alam. Bahan bangunan alam yang dapat dibudidayakan lagi, digunakan  dalam arsitektur biologis, seperti kayu, bambu, rumbia, alang-alang dan ijuk. Bahan bangunan alamiah yang dapat digunakan lagi menjadi bangun alamiah yang dapat digunakan lagi menjadi bangun arsitektural adalah tanah liat, tanah lempung dan batu alam. Sedangkan bahan bangunan alam yang diproses pabrik atau industri adalah batu artifisial yang dibakar (batu merah), genting flam, genting pres dan batu-batuan pres (batako).
Perencanaan arsitektur biologis senantiasa memperhatikan konstruksi yang sesuai dengan tempat bangunan itu berada. Teknologinya sederhana, bentuk bangunannya pun ditentukan oleh fungsi menurut kebutuhan dasar penghuni dan cara membangunnya. Bentuk bangunan ditentukan oleh rangkaian bahan bangunannya. Konstruksi bangunan yang digunakan ada yang bersifat masif (konstrtuksi tanah, tanah liat dan lempung), berkotak (konstruksi batu alam dan batu-batu merah), serta konstruksi bangunan rangka (kayu dan bambu). Atas dasar pengetahuan tentang bahan bangunan tersebut, akhirnya tercipta bentuk-bentuk bangunan yang berkaitan dengan sejarah arsitektur.